Sukses Berkarier Tanpa Gelar Sarjana Sofian Hadiwijaya


Sofian Hadiwijaya suka mengutak-atik komputer, sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dia memelajari cara meng-install permainan dengan berbekal majalah komputer saja. Dia mulai belajar pemrograman secara otodidak, saat mengerjakan tugas teman yang kuliah teknologi informatika.

Sofian sendiri pernah mengenyam pendidikan teknik industri. Namun, dia tidak pernah lulus kuliah. Meski belum menyandang gelar sarjana, tapi Sofian sudah pernah bekerja di aneka perusahaan besar hingga menjadi co-founder beberapa startup. Kini dia adalah co-founder Pinjam Indonesia. Dia belajar banyak hal mulai dari nol, menyerap berbagai bidang ilmu dan sukses dengan caranya sendiri. Simak kisah jatuh bangun Sofian dalam meniti karier.

Apa cita-cita Anda semasa kecil?

Waktu SD dan SMP, saya bercita-cita ingin menjadi profesor. Saya juga menyukai segala sesuatu tentang robot karena sering nonton Power Ranger dan Robocop. Jiwa maker sudah ada dalam diri saya sejak kecil.

Dulu saya juga jadi “teknisi” di antara teman-teman. Saya sering memperbaiki mainan anak yang rusak. Mulai dari pistol-pistolan sampai Nintendo. Saya juga memodifikasi Tamiya agar bisa lari cepat pada saat ikut lomba. Body Tamiya dikerik pakai cutter sehingga tipis. Saya tidak pernah belajar teori (aerodinamika). Hanya berpikir bagaimana mengurangi beban mobil agar ringan.

Lalu saya tanya kepada ayah: “Bagaimana cara untuk bikin robot?” Ayah lalu mengarahkan agar saya berkuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung). Sebab, banyak mahasiswa ITB yang bisa membuat robot. Untuk bisa kuliah di ITB, saya harus keluar dari kampung dan bersekolah di SMA di kota Palembang.

Lalu, sejak kapan Anda mulai mengutak-atik komputer?

Pada saat duduk di kelas 6 SD, anak-anak lain dimanjakan oleh PlayStation. Ayah saya juga menawarkan dua pilihan pada saya: “Mau beli PlayStation atau komputer?” Saya memilih komputer. Sebuah barang langka bagi orang-orang di kampung. Di situlah awal mula kecintaan saya pada komputer.

Orangtua juga mendukung saya. Ayah saya keren. Walaupun tidak mengerti komputer, tetapi beliau mendukung saya dengan berlangganan majalah komputer. Dari majalah tersebut, saya belajar meng-install emulator PS di komputer. Sampai akhirnya komputer saya meledak karena terlalu lama dipakai bermain.

Akhirnya saya bilang kepada ayah kalau ingin merakit PC. Saya pun pergi ke kota untuk membeli berbagai perangkatnya. Setelah itu, kegiatan saya lebih banyak ngoprek hardware bukan aplikasi.

Jadinya, Anda ini lebih suka jadi maker atau programmer?

Intinya saya suka ngoprek hardware atau software. Berdasarkan trial and error saja.

Akhirnya, Anda malah berkuliah di jurusan teknik industri. Bagaimana ceritanya?

Waktu SMA ada pelajaran programming. Saya selalu gagal dalam pelajaran (bahasa pemrograman) Pascal. Sehingga memupus harapan mendalami ilmu komputer. Lalu, saya memilih jurusan elektro dan fisika ITB. Sebenarnya saya bisa masuk ke jurusan fisika ITB. Tapi, teman-teman di sana bilang kalau sebenarnya lulusan teknik industri adalah yang menjadi “mandor” semua pegawai di bidang teknik. Jadi, akhirnya saya pindah ke jurusan teknik Industri di Universitas Bina Nusantara.

Bagaimana Anda kembali ke jalur IT?

Pada masa awal kuliah di Binus, perekonomian keluarga memburuk. Saya dituntut untuk cari uang sendiri di Jakarta. Salah satu cara termudah untuk mendapat uang adalah mengerjakan tugas orang lain. Kebetulan, teman-teman satu kos adalah mahasiswa IT dan tugas mereka banyak. Saya jadi belajar pemrograman. Saya bisa karena kepepet.

Pada 2009, saya mengikuti tes untuk menjadi pengajar IT di Binus Center. Saya butuh pekerjaan yang pasti agar bisa mendapatkan uang. Awalnya, saya hanya menjadi asisten pengajar. Namun, dalam waktu beberapa bulan, saya bisa menjadi mengajar sendiri.

Bagaimana bisa menjadi pengajar IT kalau Anda sendiri tidak kuliah IT?


Seorang teman membantu saya sehingga lolos tes menjadi pengajar di Binus. Selain itu, setiap kali saya mengajar, selalu membawa laptop. Jadi, kalau ada orang yang bertanya, saya bisa cari jawabannya di Google.

Pada tahun pertama, saya mendapat penghargaan sebagai instruktur terbaik di Binus Center. Sebab, menurut murid, saya tidak pernah tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Padahal semua itu karena Google.

Bagaimana dengan kuliah Anda sendiri?

Orangtua selalu bilang bahwa mereka masih bisa bertahan hidup di kampung. Tapi saya tidak ingin menyusahkan orangtua (dengan biaya kuliah). Saya juga sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Akhirnya, setelah kuliah 2 semester, saya berhenti. Saya drop out dari kampus pada 2010 karena syarat jumlah SKS tidak mencukupi.

Lalu, bagaimana Anda bisa mendapat pekerjaan lain tanpa ijazah S1?

Banyak perusahaan yang minta tenaga pengajar dari Binus Center. Sebagai instruktur terbaik, saya yang mendapat kesempatan untuk mengajar di berbagai perusahaan. Mulai dari Pertamina, Bank Mandiri hingga Bank Indonesia. Saya sering mendapat tawaran pekerjaan dari perusahaan-perusahaan tersebut. Namun selalu terkendala ijazah.

Sampai suatu hari saya mengajar di perusahaan semen Holcim. Mereka menawarkan saya untuk mengerjakan sebuah proyek. Lalu mereka menawarkan pekerjaan. Mereka bilang tidak terlalu mempermasalahkan ijazah. Jadi, setelah saya menyelesaikan kontrak di Binus Center, saya lalu pindah ke Holcim sebagai market analyst.

Bagaimana Anda bisa jadi market analyst sedangkan Anda tidak puya latar belakang pendidikan tersebut?

Awalnya mereka menanyakan posisi yang saya inginkan. Saya bilang ingin jadi system analyst. Tapi, mereka bilang ada posisi lowong sebagai market analyst. Saya juga bisa melakukan pekerjaan menganalisa. Pada saat itu, saya tidak berpikir hal lain selain uang. Mereka mau memberi gaji lebih tinggi dari pendapatan saya di Binus Center.

Selama di Holcim, saya belajar lagi dari nol. Saya tidak menangani teknologi sama sekali. Saya bergulat dengan statistik. Saya juga mendapat pengetahuan tentang pemasaran. Saya tau perbedaan sales dan marketing. Saya juga jadi punya kemampuan menganalisa. Saya pun mengetahui industri semen lebih dalam.

Untungnya rekan kerja mau mengajarkan hal tersebut. Teman-teman saya kebanyakan lulusan terbaik dari ITB, Universitas Indonesia dan bahkan dari universitas di Belanda. Saya tidak merasa minder. Kalau mereka tanya tentang kuliah, saya akan menjawab: “masih kuliah di teknik industri.”

Selain itu, di Holcim ada roadmap karier. Ada langkah-langkah dan poin yang harus dicapai untuk menjadi manajer di Holcim. Mereka juga ada Holcim Academy. Di sana, saya belajar berbagai soft skill seperti problem solving.

Semua pengetahuan itu berguna saat saya membuat perusahaan startup.

Setelah belajar industri semen, lalu Anda melompat ke sektor pertambangan. Bagaimana ceritanya?

Sewaktu kuliah di teknik industri, ada kuliah programming juga. Saya hanya masuk satu kali, kenalan dengan asisten laboratoriumnya. Saya tidak pernah masuk kelas lagi, tapi mengumpulkan tugas akhir. Ternyata tugas akhir saya paling bagus dan aslab tersebut mengingat nama saya.

Dia bekerja di sebuah kontraktor tambang baru, PT Harita Panca Utama sebagai manajer IT. Dia lalu menghubungi saya untuk bekerja di sana. Dia tau saya bekerja di Holcim dan menawarkan gaji dua kali lipat jika saya mau pindah ke Harita sebagai IT Supervisor. Lagi-lagi saya hanya melihat uangnya, jadi tanpa pikir panjang memutuskan untuk pindah kerja.

Di Harita, saya ikut memulai perusahaan dari nol. Saya yang membuat semua sistem IT, menentukan jaringan komunikasi di site pertambangan di Kalimantan. Di sana, saya uga belajar ilmu radio. Saya juga jadi tau software apa saja yang dibutuhkan di industri ini. Saya belajar mencari cara agar kerja truk dan eskavator lebih efisien. Saya bisa memadukan ilmu optimalisasi dari Holcim dengan teknologi.

Setelah bekerja di pertambangan, saya merasa sudah punya cukup uang dan ingin membuat perusahaan sendiri.

Lalu, Anda membuat perusahaan sendiri?


Saya mencari partner dan kami membentuk software house Crazy Hackerz pada 2012. Kami sebenarnya perusahaan “palu gada”, kami mau mengerjakan semua proyek IT seperti aplikasi, web, dekstop. Sampai akhirnya, pada 2013, kami membuat produk sendiri. Pada tahun tersebut, kami launching utees.me, untuk membuat kaos secara online.

Kenapa Anda akhirnya memutuskan untuk keluar dari Crazy Hackerz?


Saya belajar tentang startup dari buku-buku. Ada quote yang menyebut bahwa startup adalah perusahaan yang going faster. If you are not fast enough, jangan melabeli perusahaanmu sebagai startup. Kedua, startup itu adalah temporary business model. Sebab, mereka tidak tau model bisnis seperti apa. Sebagian orang terlalu memikirkan model bisnis sehingga lambat untuk launching. Dari dua quote tersebut, saya berpikir agar startup bisa grow fast enough, maka butuh funding.

Saat membuat utees.me, beberapa partner saya merasa tidak butuh pendanaan karena merasa uang masih ada. Namun, dana sendiri tentu terbatas. Makanya, pikiran kami tidak sejalan.

Saya juga ingin mengikuti perkembangan startup sebenarnya. Saya berpikir ilmu masih kurang. Maka, pada 2015, saya keluar dari Crazy Hackerz dan melamar ke semua startup yang ada.

Bagaimana Anda mendapat pekerjaan di startup lain?


Saya mengenal Willson Cuaca, yang punya East Venture. Dia menawarkan saya bekerja di East Venture. Dia minta saya membantu membangun teknologi di startup yang diakuisisi. Tapi, saya merasa belum berpengalaman. Saya ingin bekerja untuk startup. Akhirnya Willson membantu saya. Dia bilang ke semua founder startup yang dikenalnya kalau saya orang yang berkualitas dan sedang mencari pekerjaan.

Akhirnya, saya di-interview oleh berbagai perusahaan startup. Saya diwawancarai oleh founder-nya langsung. Melangkahi HR. Mulai dari Traveloka, Tokopedia dan sebagainya. Salah satu tawaran menarik datang dari KUDO (PT Kudo Teknologi Indonesia).

Awalnya saya tidak tertarik pada Kudo karena tidak memahami bisnis perusahaan itu. “Ngapain orang belanja lewat Kudo kalau bisa belanja online?” pikir saya. Ternyata pemikiran saya salah. Founder Kudo Albert Lucius menjelaskan pada saya bahwa selama ini penjualan di toko kelontongan tidak tercatat. Data Nielsen tidak menggambarkan yang sebenarnya. Kudo hadir untuk mencatat transaksi tersebut dengan memfasilitasi mereka untuk berjualan online.

Lalu, Albert menawarkan saya untuk bisa melakukan banyak hal di Kudo. “Saya ada engineer. Kamu bisa ngurusin semua engineer,” kata Albert kepada saya. Tawaran ini menarik karena saya memang mau belajar startup, me-manage orang.

Akhirnya saya bekerja di Kudo. Saya dibebaskan untuk melakukan banyak hal. Saya lebih banyak melakukan research and development, memperbaiki teknologinya, belajar bisnis sampai mewawancarai head of digital, membentuk tim digital sebelum Kudo go digital. Saya juga merasa memiliki Kudo. Mereka sering mengajak saya bertemu partner dan sebagainya.

Kenapa Anda meninggalkan Kudo pada akhirnya?


Pada Januari 2016, Founder Pinjam Indonesia (pinjam.co.id) Teguh Ariwibowo menawarkan saya pekerjaan dengan posisi sebagai co-founder untuk membenahi sisi teknologi. Namun, saya bilang,”Kalau belum dapat funding, saya tidak mau bergabung. Sebab, uang kamu akan habis untuk membayar gaji saya saja.” Akhirnya, pada Mei 2016, Pinjam mendapat pendanaan dan Teguh menagih janji saya.

Sebenarnya, hati saya terketuk untuk bekerja di Pinjam. Sebab, keluarga saya pernah mengalami masalah keungan akibat rentenir. Kalau saya bisa memberikan feedback kepada Pinjam, artinya saya memfasilitasi orang-orang kalangan bawah yang tidak punya akses ke bank (untuk mendapat uang/pinjaman). Mereka tidak perlu merasakan apa yang saya alami. Akhirnya, saya mulai bekerja di Pinjam sejak Juli 2016.

Anda pernah menghadapi rintangan mendapat pekerjaan karena tidak punya ijazah S1. Tapi, ternyata, ada juga orang seperti Anda yang bisa sukses seperti sekarang tanpa gelar sarjana. Berdasarkan pengalaman selama ini, menurut Anda, seberapa penting pendidikan dan titel seseorang?

Saya tidak memandangnya (tanpa gelar sarjana) sebagai hambatan. Setiap orang punya rezeki masing-masing, di manapun jalannya. Saya tidak ada niat untuk lanjut kuliah. Mungkin saya memang ditakdirkan menjadi pengusaha. Bill Gates bilang, tidak apa-apa jika harus DO, tapi mempekerjakan orang-orang yang lulus kuliah. Sebab orang yang lulus pasti bisa kerja. Sedangkan orang yang tidak lulus, belum tentu bisa kerja (di perusahaan) karena tidak taat dengan aturan.

Menurut saya, kita tidak boleh minder. Kalau kita tidak mau dianggap kecil oleh orang lain, maka kita tidak boleh mengecilkan diri sendiri. Maka, saat bertemu “orang besar”, kita harus menganggap mereka setara. Misalnya, saat saya kerja di Holcim, rekan kerja adalah lulusan dari ITB, universitas di Belanda dan Amerika. Kami mengobrol dan bertukar pikiran seperti biasa.

Selama menjalani karier, siapa bos yang paling berpengaruh buat Anda?


Waktu di Holcim, saya mengenal Deananda Sudijono. Dia atasan yang mengayomi, mau berbagi informasi dan transparan. Dia selalu bilang bahwa kita tidak bisa bantu orang lain dengan bertanya ke internet. Kita harus bertanya langsung kepada orang (yang ingin dibantu). Maka, kita harus terjun ke lapangan.

Jadi, pada saat bekerja di Kudo pun, saya jalan ke agen. Ternyata mereka butuh chatting. Maka kami buat menu inbox di aplikasinya.

Apa visi karier Anda ke depan? Apakah Anda akan meninggalkan Pinjam juga?

Sekarang saya ingin memperbaiki semuanya dulu. Mereka juga butuh saya sebagai CTO (Chief Technology Officer) untuk berhadapan dengan investor dan partner. Kalau Pinjam sudah besar, bisa autopilot, semua teknologi sudah bagus, ada CTO lain yang bisa menggantikan, saya akan mundur. Mungkin menjadi komisaris atau advisor saja.

Kehidupan startup tidak ada yang pasti. Jadi sebaliknya, jika Pinjam tidak bisa fundraising, maka artinya telah gagal dan harus tutup. Saya juga akan berhenti.

Apakah Anda akan membuat startup baru?
Saya ingin bisnis offline, bukan technology base. Saya ingin tinggal di kampung, mengurus perkebunan. Mungkin memilih opsi tanaman komoditas seperti padi, jagung atau bawang.

source : http://www.qerja.com/journal/view/3497-sofian-hadiwijaya-sukses-berkarier-tanpa-gelar-sarjana/

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Contact Form

Name

Email *

Message *