Kutipan Pramoedya Ananta Toer Tentang Kemanusiaan Yang Paling Terkenal Inspiratif

Nama Pramoedya Ananta Toer jelas menjadi salah satu bagian penting dari rekam jejak sastra Indonesia. Meski sempat menjalani masa tahanan di Pulau Buru karena dituding sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), namun Pram tidak begitu saja menyerah pada keadaan.

Tetralogi Buru yang mahsyur itu bahkan jadi saksi bahwa teralis besi tidak mampu membungkam hasrat menulisnya. Sastrawan yang sempat diisukan masuk nominasi Nobel di bidang sastra ini bahkan terus berjuang dengan pena untuk mengajarkan pada setiap pembacanya bahwa rasa kemanusiaan itu amat penting. Berikut ini ada lima kutipannya yang paling terkenal dan amat inspiratif.

"Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan"

Dalam bukunya yang berjudul Bumi Manusia, kutipan di atas diucapkan oleh tokoh Jean kepada Minke. Kalimat itu mungkin terlihat sederhana, namun tak bisa dipungkiri bahwa maknanya amat dalam. Jika kita renungkan, adil dalam pikiran berarti konsisten dalam konteks dan keputusan.
Menurut Pramoedya Ananta Toer, adil itu seharusnya sudah sejak dalam pikiran (istimewa)

Seseorang terpelajar harus bisa memilah apa yang benar dan salah, bukan berdasarkan apa yang disuka atau dibenci. Kalau hal ini diterapkan, niscaya tidak ada lagi korupsi, suap-menyuap, dan tindakan melawan hukum lainnya karena tingginya kesadaran untuk berlaku adil sejak dalam pikiran sekalipun.

"Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit."

Benar kata Pram, dunia ini bergerak dengan keseimbangannya sendiri. Oleh karenanya, tidak baik bila kita hanya meratapi saja permasalahan atau kegagalan yang menimpa kita tanpa mengingat sedikitpun kebahagiaan yang pernah kita rasakan.

Pram meyakini bahwa kehidupan ini harus berjalan seimbang antara yang sedih dan bahagia (youtube)

Begitu pula sebaliknya. Meski kita dikaruniai hidup yang bahagia dan seolah tidak memiliki permasalahan apapun, kita tak boleh melupakan keberadaan saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Hanya dari timbal balik itulah kita bisa meraih keseimbangan hidup.

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah"


Melalui kalimat di atas, Pram mengingatkan para cerdik pandai untuk selalu membagikan ilmunya melalui analogi menulis. Sungguh tak ada gunanya kita memiliki kecerdasan yang luar biasa tanpa pernah mengamalkannya. Padahal, jelas ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari membagikan pengetahuan.

Jasad boleh hancur ditelan bumi, tapi tulisan kita akan selalu hidup di keabadian (youtube)

Ingatlah bahwa tidak akan habis suatu ilmu karena dibagikan. Ia justru akan terus bertambah dan berkembang sehingga baik dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia. Oleh karenanya, Pram dengan tegas menyindir orang-orang yang berpandangan sempit akan hilang ditelan masyarakat dan tidak jadi bagian dari sejarah.

"Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas"


Sungguh, kutipan satu ini amat tepat untuk diterapkan pada masa-masa sekarang ini. Seperti kita tahu, banyak cerdik cendekia yang meraih posisi penting dalam tatanan pemerintah justru menggunakan kekuasaannya untuk terus mengeruk kekayaan tanpa memikirkan orang lain.

Semakin cerdas seseorang, seharusnya ia semakin mengamalkan ilmu padi: makin berisi makin merunduk (idealiststyle.com)

Jelas ini adalah sikap yang harus kita hindari. Seharusnya, semakin tinggi ilmu yang kita miliki justru disedekahkan untuk mencari jalan keluar bagi permasalahan orang-orang yang kurang beruntung agar hidupnya bisa segera membaik.

"Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara"

Seseorang mungkin tidak mendapatkan sesuatu kesuksesan dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya pada kemanusiaan.

Saat seseorang mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan, orang akan mengenang jasanya sepanjang sejarah peradaban (colombiainforma.info)

Sebagai contoh, lihatlah tokoh-tokoh besar macam Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Bunda Theresa, dan masih banyak lainnya. Mereka semua akan selalu dikenang oleh umat manusia karena sumbangannya pada kemanusiaan, bukan berdasarkan pada status sosial atau pekerjaannya.

source : https://www.inovasee.com/5-kutipan-pramoedya-tentang-kemanusiaan-32220/

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Contact Form

Name

Email *

Message *